#17 Haha… [Laugh At Myself]

June 30, 2012 § Leave a comment

Haha… [Laugh At Myself]

Sebetulnya postingan ini tidak terlalu penting, mengingat postingan ini berisi kesialan dan kemalanganku selama beberapa hari belakangan ini. Mulai dari mood baca yang hancur berantakan, blog buku yang sudah aku ciptakan kemudian aku hapus URL site-nya, buku yang ada dalam wishlist yang entah kapan bisa terbeli atau (minimal) terbaca, list buku untuk The Classic Club Project by Jillian yang belum selesai-selesai, sekolah dan teman-teman baruku, sampai harga mati untuk les di sebuah lembaga bimbingan belajar. Apakah harus aku mulai sekarang? Oh baiklah, aku tidak akan banyak bicara lagi.

Sial! Sial! Sial!

This is disaster. Mood bacaku yang selama ini sudah sangat bagus harus hancur berantakan! If you think it’s gonna be alright, but I think it’ll be so worse. Jangan harap aku akan menjawab pertanyaan kalian tentang “Mengapa?” atau “Haruskah hal itu kau anggap menjadi begitu buruk?” dan pertanyaan lain yang ada dalam otakmu. Sebagai orang yang punya banyak timbunan buku untuk dibaca (mungkin aku masih belum ulung dalam hal baca membaca, tapi 20 buku dalam satu timbunan dan belum lagi buku dalam wishlist) itu sangat menyedihkan untuk tahun ini. Jika beberapa waktu yang lalu aku bisa menghabiskan 1 sampai 2 buku (bahkan lebih) dalam sehari, sekarang butuh waktu 2 sampai 3 hari untuk menghabiskan 1 buku. Jika kalian seorang bookworm, bagaimana perasaan kalian jika mengalami hal yang sama sepertiku? Errrr… It was so nerd!

Semua fokusku teralihkan untuk mencari sekolah baru. Ya, aku sudah menginjak tahun pertama dalam perjalan menuju kedewasaan dan SMA 4 adalah sekolah yang akan menjadi rumah baruku selama 3 tahun ke depan, menimpa ilmu untuk mempelajari hidup yang lebih bebas dengan segala bumbu-bumbu kemunafikan di dalamnya. Sejujurnya, SMA 4 bukanlah sekolah yang aku harapkan. Tujuan utamaku saat mendaftarkan diri adalah SMA 1. Tapi apa daya, nilai yang kurang memuaskan membuatku harus terlempar ke SMA 4. Sedih, ragu dan menyesal adalah hal yang aku anggap lumrah karena harapan yang semula telah terpatri dalam benak kini harus hancur berkeping-keping.

“Ndak apa nduk, yang penting nanti kamu belajaro yang utun supaya tembus UNAIR terus ambil jurusan kedokteran. Ambil spesialis kandungannya di sana juga. Itu baru anak pinter.” Titah mamaku di hari terakhir PSB Online dan disaat-saat itulah tangisku akibat hasil online yang menyedihkan pun berhenti. Apa yang mama katakan ada benarnya juga. Masuk SMA 4 tidak ada bedanya dengan masuk SMA 1 (meskipun kedua sekolah itu juga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing) asalkan aku mau berusaha merubah keadaan dari yang aku kira aku akan gagal menjadi aku akan sukses suatu hari nanti. Tinggal bergantung usaha yang aku lakukan untuk mencapai semuanya.

Back to the topic tentang mood bacaku yang sekarang sudah mulai menurun standard dan kualitasnya. Hal ini juga berpengaruh sekali terhadap perkembangan list buku klasik yang harus aku selesaikan sebelum tanggal 15 Juli nanti. Aku berencana, bertepatan di hari ulang tahunku nanti aku bisa mulai memberikan kontribusi untuk The Classic Club Project yang diprakarsai oleh Jillian, seorang book blogger luar negeri. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunku sendiri. Aku hanya mengambil 50 list buku klasik yang akan aku baca untuk 5 tahun kedepan, di mulai dari tanggal 15 Juli 2012 sampai 15 Juli 2017.

Errrr… belum beres semua masalahku dengan list buku-buku klasik itu, kini aku dihadapkan dengan pilihan antara aku harus melepaskan Kak Agatha (guru private Biologi) atau aku ikut sebuah lembaga bimbingan belajar yang harus mengeluarkan biaya lebih dari 6 juta? Kak Agatha adalah orang yang berjasa dalam membimbingku memahami ilmu alam saat masih SMP. Meskipun baru lulus kuliah, tapi Kak Agatha adalah orang yang cerdas. Aku jadi suka belajar Biologi (atau mungkin sudah dasarnya aku suka biologi ya?) karena Kak Agatha. Sebetulnya aku juga diajar oleh Kak Elvira. Dia adalah guru private untuk pelajaran Fisika. Orangnya juga cerdas, aku jadi tidak terlalu takut dengan pelajaran Fisika karena Kak Elvira (secara, aku ini orang yang bodoh dalam bidang Fisika).

Saat aku mengungkapkan keinginanku untuk mengikuti les di sebuah lembaga bimbingan belajar yang dekat dengan SMA 4, mama memberikan pilihan antara aku harus memilih untuk les di Kak Agatha dan Kak Elvira lagi atau aku harus les di LBB itu saja tanpa harus memanggil Kak Agatha dan Kak Elvira untuk mengajar lagi.

Aku bimbang.

Di satu sisi, aku berharap kedua guru privateku itu bisa mengajar lagi di rumah. Tapi di sisi lain aku harus melepaskan mereka karena biaya kursus di LBB yang aku maksud sangatlah mahal.

“Kamu sudah gedhe, harusnya kamu bisa memilih mana yang baik buat kamu nduk. Kalau sudah ada pilihan, katakan.” Begitu titah papa saat aku mengungkapkan kegundahanku. Dan setelah disadari, memutuskan sesuatu dengan bijak itu sedikit rumit. Aku harus memikirkan konsekuensi dari pilihanku nanti, tentang dampak positive maupun negative. Errrr… aku mulai pusing.

Dan dengan adanya pelajaran untuk menentukan ini, aku jadi sadar, semakin beranjak dewasa, semakin banyak aku dihadapkan pada berbagai pilihan, pemikiran tentang konsekuensi, dan menentukan pilihan secara dewasa itu sangat sulit untukku yang masih baru menginjak tahap pendewasaan pikiran. Apalagi dengan kesulitan alamiahku untuk mengedalikan emosi dan pikiran yang kadang sering bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Mungkin untuk 3 tahun kedepan aku harus lebih pintar melatih kontrol emosiku sendiri, melatih kepekaan terhadap konsekuensi yang harus aku tanggung untuk pilihanku kedepan dan tentunya melatih mood bacaku yang… sebetulnya sudah aku latih dari lama dan hasilnya sangat memuaskan, tapi pada akhinya aku harus mulai melatihnya lagi dari nol.

Aku berharap pada Tuhan agar aku bisa melalui lika-liku kehidupan ini dengan suka cita dan berdo’a semoga kebahagiaan terus ada untukku dalam duka yang menyelimuti.

“Masalah memang menyusahkan (atau bahkan menyebalkan?) tapi jika aku bisa menghadapinya dengan bijak dan dengan kontrol emosi yang baik, masalah itu akan berlalu dengan sendirinya”  –– Rendria Sari Kusumawati.

Semoga kalian yang membaca artikel aneh ini juga bisa melewati masalah-masalah yang menghadang, saat ini maupun di masa depan. Amien.

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #17 Haha… [Laugh At Myself] at Ordinary Journal.

meta

%d bloggers like this: