A Complicated Fairy Tale

June 14, 2012 § Leave a comment

A Complicated Fairy Tale.

It’s not about a famous fairy tale, but it’s about myself and my fairy tale. Okay, it’ll be kinda awkward but if you wanna try to continue your reading, enjoy yourself with ‘Bahasa Indonesia’ and I wanna warn you, this article has no a main content. It’s kinda like a diary.

Berkisah tentang beberapa hari yang lalu, saat saya membaca sebuah artikel tentang pengaruh dongeng terhadap seorang anak dan artikel lain yang memuat tentang bacaan ‘yang seharusnya’ tidak diperuntukkan bagi anak seusia keponakan saya (yang saat ini sudah menjelang tujuh tahun).

Tergelitik dengan tema tulisan yang ‘amat sangat’ berbeda jauh itu, saya teringat masa kecil saya yang banyak dipenuhi dengan cerita kanak-kanak dan cerita fantasi yang saya cari sendiri di majalah Bobo (If you know my mom, you’ll be confused. Why her daughter, I mean it’s me, has no same character with her ._.) hasil pemaksaan saya pada papa untuk berlangganan dan buku kumpulan cerita yang Pustaka Ola terbitkan bertahun-tahun lalu.

Saat itu saya baru berusia sekitar delapan sampai sembilan tahun. Majalah Bobo dan kumpulan cerpen Pustaka Ola yang saya miliki adalah hal paling berharga yang pernah saya miliki. Dan saya juga memiliki beberapa buku dongeng yang –saya lupa menaruhnya dimana– penuh dengan imajinasi dan khayalan aneh sang penulisnya. Benar-benar kenangan yang tak akan terlupakan =D

Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali para mama yang mengeluhkan bacaan anak-anak mereka. Saya prihatin dengan perubahan pesat di zaman modern seperti sekarang ini. Anak-anak yang harusnya masih akrab dengan dongeng terkenal Alice’s Adventure In Wonderland atau mungkin novel klasik anak-anak, The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis, atau cerita khayalan Peter Pan And Tinker Bell, kini semakin berpaling meninggalkan dongeng yang paling terkenal sekali pun untuk sebuah Teenlit yang jelas-jelas tidak cocok dengan kondisi dan usia mereka.

Saya cukup kaget dan prihatin –tentunya– dengan peristiwa yang bisa dibilang ‘bukan termasuk hal langka’ di zaman modern seperti sekarang. Tapi yang membuat saya sedikit khawatir adalah apa yang akan mereka khayalkan jika sejak usia dini mereka sudah bergumul dengan buku-buku yang harusnya menjadi lahapan seorang dewasa? Bagaimana dengan perkembangan mental mereka?

Bayangkan jika anak bapak ibu sekalian yang baru saja berusia tujuh tahun sudah memikirkan hala-hal aneh seperti ‘I really want to have a boy/girlfriend’ atau hal-hal menyimpang lainnya. Ini sungguh hal yang patut dikhawatirkan.

Banyak orang tua yang kurang paham seberapa pentingnya dongeng mendidik yang ditanamkan pada anak usia pra-sekolah. Meskipun saya masih berusia lima belas tahun tahun ini, tapi saya sudah ‘sedikit’ mengerti seberapa pentingnya dongeng yang ditanamkan oleh orang tua sejak dini. Dongeng sangat penting untuk ditanamkan di usia dini karena:

  1. Di usia dini (usia berkisar 3 tahun) adalah masa-masa emas dimana anak akan lebih dapat menangkap banyak kata dan manfaat menanamkan dongeng di usia emas adalah mereka akan menemukan pemikiran jenius yang bahkan tidak akan terpikirkan oleh kita seorang yang lebih dewasa,
  2. Khayalan yang terdapat dalam dongeng-dongeng mendidik bisa membantu menumbuhkan rasa solidaritas, kepedulian pada lingkungan dan tingkat sosial yang tinggi dalam bermasyarakat,
  3. Anak yang lebih banyak mendengar dongeng yang mendidik akan menjadi anak yang lebih kreatif dan inspiratif dari pada anak-anak lain seusianya,

Dan sebetulnya masih banyak lagi kelebihan yang dijanjikan jika mama papa zaman sekarang lebih banyak memberikan aspek mendidik yang disampaikan melalui dongeng. Saya juga akan membacakan dongeng pada anak saya, bahkan jauh sebelum anak saya lahir =D (mungkin delapan sampai sepuluh tahun lagi) dan yang jelas saya ingin menanamkan lebih banyak kebaikan melalui dongeng-dongeng fantasi yang mungkin akan saya kutip dari beberapa cerita terkenal atau mungkin saya akan menciptakan dongeng saya sendiri.

Sudahlah, dari pada saya melantur terlalu jauh, saya akhiri artikel (diary) tak berarti ini. Sampai jumpa di artikel-artikel (yang jika dibaca seperti diary) selanjutnya =D

 

 

Menjemput kantuk,

Rendria Sari Kusumawati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading A Complicated Fairy Tale at Ordinary Journal.

meta

%d bloggers like this: