#2 Finally I can Watch The Raid: Redemption

April 8, 2012 § Leave a comment

Finally, I can watch The Raid: Redemption yesterday. I went to theater with my friend, Afi who wanted to watch this movie too, like me. Many stories that we had before we can watch The Raid. I want to write my experiences before I watch this movie yesterday, maybe this post like diary =D thus, want to continued or not? Oh ya, I’ll give you all little bit review of this movie. Check it!

The Raid: Redemption is the winner of Midnight Madness Award at TIFF (Toronto International Film Festival) 2011 and Dublin Film Critics Circle Best Film and Audience Award at JDIFF (Jameson Dublin International Film Festival) 2012

Kemarin, saya bersama Afi, teman saya pergi ke Matos untuk nonton The Raid. Dasar kita bocah sedikit “sableng”, kita yang sebetulnya akan menghadapi Ujian Nasional beberapa hari ke depan, menyempatkan diri untuk nonton The Raid dan parahnya bagi Afi, hari Minggu, 8 April ini adalah seleksi beasiswa SMA Taruna Nusantara dan dia belum belajar sama sekali. Oh my, tapi dia santai-santai aja tuh menanggapinya (yah beginilah kalau saya bertemu dengan anak cerdas, selalu santai dimanapun dan kapanpun o.O).

Kebetulan, Sab’tu kemarin saya bertemu dengan banyak orang yang saya kenal, mulai dari Mbak Agatha, guru les private biologi saya di rumah dan yang paling mengagetkan saya dan Afi bertemu dengan Ghina dan Diki di KFC Fried Chicken (Ya, ya, saya tahu saya dan Afi gak punya cukup uang untuk membeli makanan yang lebih sehat dari ayam goring KFC). Kami pada awalnya kaget, kenapa dua anak manusia itu bisa jalan berdua dan masih menggunakan seragam sekolah (seperti saya dan Afi)? Dan Afi, si pengagum beratnya Diki (dulu) ternganga-nganga dengan apa yang kami temukan. Saya yang biasa saja berusaha untuk menenangkannya.

Beberapa saat setelah saya mencoba menenangkan Afi, dia terdiam. Kami terdiam. Dan kemudian sebuah celetukan keluar dari mulut kami berdua. Diki dan Ghina adalah Pasangan Baru! New Couple! Really Famous Couple of The Year! Dan beberapa pemikiran dan spekulasi pun mulai terngiang-ngiang dalam kepala masing-masing.

“Jangan-jangan mereka mau nonton The Raid juga?” celetuk saya setelah lama berpikir.

“Gak mungkin ah, mereka pasti nonton Love is You. Kan mereka lagi kasmaran…” sanggah Afi. Kebetulan hari itu The Raid main bersamaan dengan Love is You-nya Cherry Belle.

Dan masih banyak spekulasi yang terlontar dari mulut kami masing-masing. Setelah beberapalama berdebat di dalam KFC yang waktu itu lumayan ramai, kami pun memutuskan untuk pergi ke Gramedia (meskipun hanya untuk melihat-melihat). Beberapa menit menjelang penayangan The Raid, akhirnya saya dan Afi memutuskan untuk masuk ke studio 1 tempat penayangan The Raid.

[SKIP SELURUH KEJADIAN ANEH DI STUDIO]

Akhirnya, film pun selesai di putar. Huyeeh… Afi yang ketakutan dengan beberapa adegan penembakan dan kekerasan yang terjadi mulai menenang (?) menjelang akhir filmnya.

Jujur, film ini bagus menurut saya. Gareth Evans, sang sutradara, juga pintar memberikan ketegangan lebih saat adegan penembakan dan kekerasan, karena film ini begitu “kasar”. Jantung saya berdegup lebih kencang dan lebih cepat ketika melihat banyak sekali adegan pembunuhan di film ini. Tapi ketegangan dan ketakutan saya tidak berimbang dengan kepuasan saya akan jalan cerita yang disuguhkan. Honestly, film ini dari segi effects, cinematography dan (of course) music sudah mendukung dan memberikan kesan ‘cool’, tapi dari segi cerita? Bad mark untuk The Raid. Banyak adegan non kekerasan yang membuat saya bertanya-tanya saat keluar dari studio. Kenapa harus seperti ini…? Kenapa harus seperti itu…? Kok bisa seperti ini…? Ini maksudnya apa…? Dan beberapa pertanyaan lain yang membuat saya sakit perut untuk memikirkannya lagi.

Dan menurut saya lagi, film ini punya ending yang mengantung sekali untuk ukuran film action. Kenapa hanya seperti ini…? o.O dan itu membuat saya sebal setengah mati. Tapi setelah saya berpikir, kenapa film ini punya cerita aneh tapi dari segi kekerasan dan action-nya begitu memukau? Dan jawaban saya adalah karena (mungkin) Gareth Evans tidak terlalu mementingkan cerita film ini karena memang yang ingin dia pertunjukkan untuk penonton adalah action yang dibawakan oleh Iko Uwais dkk. Dan mungkin pertanyaan-pertanyaan saya seputar The Raid akan terjawab di sekuel filmya, Berandal yang saya tidak tahu kapan film ini akan rilis. Yang jelas, setahu saya film ini sudah di beli hak penayangannya oleh beberapa negara besar di seluruh dunia, seperti Inggris, Amerika, Korea, dll.

Ini juga sekilas tentang komentar internasional untuk The Raid: Redemption.Check it~

Internasional comment for The Raid: Redemption.

Semoga di masa depan, dunia perfilman Indonesia juga bisa lebih maju dan (yang pasti) lebih bagus dari film-film yang menurut saya bagus sekarang-sekarang ini. Oh ya, setelah saya tidak terlalu sibuk, saya akan memberikan rekomendaasi film yang layak untuk di tonton di postingan selanjut-selanjutnya. Tetap tunggu yah~

Maybe it’s enough. See you on the next posting and spread you cheerfulness to people around your life. Bye~

NB : Ternyata, setelah di pikir-pikir, Iko Uwais punya wajah yang lumayan (*0*) Meskipun pendek tapi… Love him so much~

From left. Joe Taslim - (I don't know, hehe) - Gareth Evans - Iko Uwais - Yayan Ruhian - (I don't know too, hehe)

Movie Score (3.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #2 Finally I can Watch The Raid: Redemption at Ordinary Journal.

meta

%d bloggers like this: