[Diary, April 5th 2012] Warung Kopi (The Best Absurd Post)

April 5, 2012 § Leave a comment

Kemarin, saat pulang sekolah, seperti biasa saya pulang dengan anak gila bernama Meme yang selama ini sudah menjadi teman bicara di angkot. Seorang K-Popers juga tapi juga salah satu up dater (?) gosip sekolah. Saat kami akan pulang, kami bertemu dengan Firza, salah satu teman kami yang juga tergolong anak pintar di sekolah. Kami akhirnya berencana untuk pulang bersama. Singkat kata, akhirnya kami mendapatkan sebuah angkot yang sepi dan memulai percakapan ala warkop (baca: warung kopi).

Begitulah sepengggal kisah yang menuntun ke sebuah perbincangan ala pelanggan warung kopi antara saya, Meme dan Firza. Banyak hal yang kami bicarakan saat itu, tentang berita hangat tentang seorang bapak yang akan pergi ke Makkah dengan berjalan kaki, harga BBM yang naik, tentang Freeport dan masih banyak lagi. Ini adalah bagian yang paling aku sukai saat pulang, membicarakan hal-hal up date dan penting mengenai Indonesia (setidaknya lebih baik daripada membicarakan masalah tentang percintaan orang lain di sekolah?)

Di mulai dari percakapan pendek tentang cerita lama, seorang bapak-bapak dari Malang yang rela berjalan kaki ke Jakarta untuk menuntut ketidakadilan saat mendiang putra kesayangannya di siksa di kampusnya. Kemudian berujung pada cerita baru tentang seorang bapak yang akan pergi ke kota suci Makkah dengan berjalan kaki untuk menuntut balas mendiang putranya yang di tabrak mati seorang polisi. Mungkin anda sebagai pembaca akan berkomentar, “Dilaporkan saja ke kantor polisi?”. Shhh… tidak semudah itu membawa masalah yang bersangkutan dengan polisi. Buktinya saja, ketika bapak ini menuntut polisi itu, tidak ada tindakan berarti dari aparat kepolisian. Indonesia, menyedihkan! Dalam benak, saya selalu bertanya-tanya, “Kenapa penduduk Indonesia selalu mementingkan diri sendiri? Selalu mencari keuntungan di setiap kesempatan. Apakah mereka belum sadar, yang mereka bela bersalah?” dan kemudian saya mengingat kembali tingkah polah teman-teman sekeliling saya. Banyak yang bertingkah sama seperti aparat kepolisian yang saya ceritakan barusan.

Mereka selalu saja membedakan-bedakan teman. Yang pintar akan memilih dengan yang pintar, dan yang bodoh tersingkirkan. Yang popular dengan yang popular, yang infamous? Menyingkir jauh-jauh deh. Oke, mungkin itu adalah hukum alam yang sudah mutlak. Tapi menurut saya pribadi, itu tidak baik karena kesenjangan sosial akan sangat terlihat mencolok. Sirkulasi pergaulan pun akan terganggu.

Jujur saja, saya sangat prihatin dengan bangsa Indonesia yang sikap moral dan sosialnya sudah sangat menurun. Tak ada rasa kekeluargaan lagi yang saya rasakan, hanya kesenjangan yang dapat saya nikmati.

[BACK TO THE TOPIC]

Membahas masalah tentang kenaikan harga BBM yang diiringi dengan aksi demo dimana-mana. Apa yang dipikirkan para pendemo itu? Apa mereka tidak pernah membaca atau melihat berita di televisi? Harga minyak mentah memang saat ini sudah naik per barelnya, kenapa kalian harus marah-marah pada pemerintah yang menaikkan harga premium. Toh, Amerika (negara pengeruk kekayaan Indonesia) biasa-biasa saja. Apalagi mengingat aksi demo di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat yang menghebohkan stasiun tv nasional beberapa waktu lalu. Aksi membakar mobil patroli dan sebuah sepeda mototr milik polisi setempat. Apalagi yang melakukan aksi brutal hingga tengah malam itu adalah mahasiswa penerus perjuang bangsa Indonesia, idaman masa depan.

Aksi bakar mobil patroli dalam demo di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat

Saya sampai heran dengan tingkah laku mereka. Untuk apa mereka membakar mobil patroli polisi? Polisi-polisi itu hanya ingin menertibkan aksi brutal mereka dan memberikan ketertiban di antara masyarakat. Dan kenapa coba mereka menyalahkan pemerintah? Kalau mereka bisa menyalahkan pemerintah, kenapa mereka juga tidak sekalian menyalahkan Amerika yang mengeruk kekayaan alam kita dan sudah menaikkan minyak mentah dunia?

Menurut Firza, hasil kekayaan alam yang dikeruk oleh Amerika dari Indonesia saja bisa memenuhi setengah dari kebutuhan Amerika sendiri. Dan kita yang memiliki? Kita dapat apa coba?

Menurut saya, jika mahasiswa itu masih merasa punya otak dan ingin di anggap sebagai seorang yang terpelajar, harusnya mereka berpikir dan berusaha, bagaimana caranya agar Freeport yang seharusnya dinikmati hasilnya oleh bangsa Indonesia sendiri dapat mereka ambil alih dan di kelola sendiri oleh bangsa Indonesia tanpa ada campur tangan dari luar. Itu kan lebih baik daripada mereka melakukan hal-hal ‘kuno’ yang sejatinya tidak akan pernah terjadi.

Benar-benar miris bangsa kita ini sekarang. Tak ada lagi kesadaran untuk berbangsa dan bernegara dengan benar. Selalu saja berkehendak sendiri, main hakim sendiri. Yah, demo itu boleh-boleh saja, asal juga harus tahu batasannya. Bukan malah dinikmati sampai menimbulkan kericuhan dan mengganggu masyarakat lain yang tidak ada sangkut pautnya.

Yah, mungkin hanya sedikit yang dapat saya bagikan. Semoga tulisan abal-abal ini dapat di ambil hikmahnya. Ok guys, see ya later in another post and spread your cheerfulness for all people around your life. Bye~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Diary, April 5th 2012] Warung Kopi (The Best Absurd Post) at Ordinary Journal.

meta

%d bloggers like this: